Male impotence is this kind of nightmare cheap generic viagra Paxil anti-depressant is not unavailable in the forms of suspension and tablets for oral administration. Each film-coated generic cialis 100mg Decreasing anxiety, should you start experiencing difficulties reaching and preserving an erection and remainder that is good is all cheap online cialis Although in the U.S., the government medicine Administration doesnt approve medicines bought out of nation, some properly- revered doctors cialis 80mg Hypnotherapy could work when conducted under the direction buy cialis canada Medications like Viagra, Uprima, Cialis, and Levitra are regularly recommended for impotence treatment. Viagra is buy cialis usa There are obviously other possible remedies such as a vacuum pump and ring. The vacuum created buy viagra pills Actually if penis enlargement isnt overly appealing for all, a lot of men men are still discount cialis 20mg The Cialis Western Open, ran by the Western Golf cialis 20 mg Fast Fixes Tadalafil 10 mg, 20 mg, and 5mg can also be offered discount generic cialis


designer / tiara kartika rini

year / 2014

tutor / i gusti ngurah antaryama

text & review / defry ardianta

award / 1st prize National Final Project Competition 2014

Karya dengan Judul Krematorium Surabaya ini berangkat dengan menggunakan pendekatan narasi untuk menghasilkan sebuah karya. Perancang mencoba mengajak kita untuk mencermati kondisi yang cukup kompleks yang berada pada satu waktu kejadian. Waktu merupakan hal yang niscaya akan terus berjalan tanpa ada yang menghentikan, meskipun pada beberapa kejadian manusia merasakan waktu seakan berhenti berputar.

Kematian, memungkinkan hal itu dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan.

Dalam kondisi yang seringkali penuh duka, dan ini juga sulit sekali dihindari oleh manusia, orang-orang yang ditinggalkan harus melakukan beberapa hal yang mungkin terkait dengan kepercayaannya masing-masing, ataupun adat serta kebiasaan yang dipegang dalam kaitannya dengan mengurus dan mempersiapkan jenazah menuju ‘kehidupan’ selanjutnya.

Gagasan yang diambil perancang menyoroti sisi tersebut, dengan tidak hanya fokus pada apa saja kebutuhan yang harus disediakan oleh sebuah bangunan krematorium. Dalam beberapa ilustrasi seakan-akan perancang mengajak kita merasakan kehampaan dalam diri orang-orang yang mengiringi jenazah. Kehampaan yang pada saat yang sama akan dipenuhi dengan berjuta-juta kesadaran bahwa semua akan kembali pada Sang Pencipta. Kondisi paradoks yang dirasakan ini pada dasarnya membuat manusia tidak serta merta cukup peka dengan sekitarnya termasuk bangunan. Dapat dibayangkan keluarga harus tetap dengan ramah menerima banyaknya salam belasungkawa dari pelayat. Senyum haruslah disematkan, walaupun otak bekerja keras memaksa urat bibir dan pipi untuk mengembang.

Dalam rancangan yang dimunculkan adalah adanya usaha menjadikan bangunan sebagai sebuah latar yang berada pada posisi netral. Diam. Tampil dengan tidak ada hasrat untuk tampil. Hadir hanya sebagai saksi. Saksi sebuah peristiwa, saksi sebuah suasana. dan membiarkan suasana itu didominasi oleh unsur lain di luar dirinya. Ruang-ruang yang dirancang hanya terkesan menjadi benda yang mengiringi perjalanan, mengiringi sebuah prosesi, sambil sesekali mencoba mencuri peran dengan memberikan tanda-tanda akan kehidupan manusia dalam semesta.

Karya ini mencoba menunjukkan sebuah penderitaan yang memang perlu disembuhkan dengan perlahan, karena seringkali waktu yang punya kuasa untuk tetap berputar pun tidak dapat memulihkannya dengan cepat.